Kesedian Bukan Jalan Yang Terbaik
Pada suatu hari, hiduplah seorang anak
yang bernama AAR yang berkeinginan untuk kuliah. Dia kuliah di Politeknik
Negeri Banyuwangi, salah satu Politeknik Negeri di Banyuwangi. Kesenangannya
mulai memuncak sejak dia mendapatkan banyak teman dikuliahnya, dia mengambil
jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Ternak (TPHT). Teman-temannya sangat
menyukai tingkah laku yang begitu lucu dan idiot, sampai-sampai dia hampir
terkenal diseluruh jurusan yang lainnya.
Hari demi hari sangat banyak teman yang
melingkari dirinya dan sangat dibutuhkan oleh temannya yang banyak, karena dia
suka membantu temannya yang begitu baik. Pada waktu acara pertunjukan seni
dikuliahnya, dia di undang mengisi acara tersebut dan dia berkata “apa yang
harus lakukan?”. Dia berpikir dengan begitu tenang di sebuah tempat sejuk di
kuliahannya, dan pada akhirnya dia pun mencoba melakukan yang terbaik.
Dia pun mulai berlatih sekuat tenaga
untuk mencapai hasil yang terbaik. Satu bulan kemudian, pertunjukan seni pun dimulai.
Pada saat dia tampil banyak yang mensorakinya, dia pun begitu senang melihat
mereka senang. Tidak lama kemudian banyak yang memujinya, dia sangat senag
sekali.
Pada suatu ketika ada salah satu teman
sejurusannya yang susah dan senang bersamanya. Dia adalah teman seperjuanganya
pada waktu mau masuk ke Politeknik Negeri Banyuwangi. Si AAR sangat senang
bersama teman yang satu ini, membuanya begitu gembira. Tetapi waktu berkehendak
lain, teman seperjuangannya ini sudah tidak bersamanya kembali ketika dia sudah
mendapatkan beasiswa.
Biasanya berangkat dan pulang bareng
sekarang tidak bersama. Waktu ke waktu dia menjalani hidup dengan sabar, temannya
hanya sekedar menyapa dan tidak mau peduli. Tetapi dia tetap senang karena
temannya bisa beli sesuatu yang dibutuhkannya meskipun dia teracuhkan. “Hidup
ini begitu kejam, ternyata teman yang baik belum tentu yang terbaik” kata dia.
Pada saat itulah dia begitu sepi, teman
di kostsan pun sudah pergi satu per satu. Kesediannya mulai bertambah tanpa
seseorang yang menghampirinya. Dan kesedian selalu menimpanya di setiap
harinya, teman-teman yang memujinya lama-lama sudah mulai bosan dan menjauhi
dirinya. Dia berkata “Apa salahku, apakah mereka tidak suka dengan apa yang aku
lakukan dengan hobi seniku ini?”.
Hidupnya penuh dengan penderitaan dan mulai
terpaku bagaikan batu. Seiringnya penderitaan datanglah temanya dari teknik
mesin dan manajemen bisnis pariwisata yang menerimanya apa adanya, dia begitu
senang ternyata didunia ini ada orang yang tulus menerimanya apa adanya.
Dia sangat bersyukur sekali kepada Tuhan Y.M.E. dan
berdo’a kepada-Nya, bahwa dia berkeinginan untuk jadikan teman ini menjadi
orang yang terbaik untuk membatu di masa yang akan datang. Dia sadar bahwa
kesedian bukanlah salah satu jalan yang terbaik untuk menghadapi hidup yang
kejam ini, tetapi bangkitlah menata hidup dengan gembira dan tetap bersikap
ramah pada orang lain meskipun mereka tidak menyukai dirinya.


0 komentar:
Posting Komentar